Contoh Artikel Kesehatan: Benarkah Terapi Plasma Darah Efektif Menyembuhkan Penyakit Covid-19?

Baru-baru ini terapi plasma darah sedang menjadi sorotan. Hal ini karena terapi tersebut digadang-gadang mampu menjadi solusi untuk pengobatan penyakit corona atau yang dikenal juga dengan nama virus covid-19. Namun, benarkah terapi tersebut ampuh dan tidak memiliki efek samping berbahaya bagi pasien?

Terapi dengan menggunakan plasma darah ini menjadi sebuah harapan yang begitu nyata. Hal ini mengingat kini di Tanah Air, virus Covid-19 mulai menunjukkan akhir pandemic mengingat semakin banyak pasien yang dinyatakan sembuh. Terlebih, terapi ini menggunakan plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan 100% sembuh dari Corona.

Nantinya, plasma dari dari pasien yang sudah berhasil sembuh tersebut akan diambil. Kemudian, plasma darah ini akan digunakan untuk mengobati pasien Corona yang masih sakit lainnya. Plasma darah tersebut digunakan karena plasma darah dari pasien yang sudah sembuh memiliki antibody untuk melawan virus Covid-19 dengan baik.

Kini, banyak dokter, ilmuwan, dan tenaga medis di seluruh dunia; termasuk di Indonesia, tengah berlomba untuk meneliti metode pengobatan terapi plasma darah ini. Untuk mengetahui lebih detail tentang terapi ini, berikut ini adalah informasinya lebih lanjut.

Bolehkah setiap pasien yang sudah sembuh menjadi pendonor?

Apabila anda berpikir jika nantinya seluruh pasien yang sudah sembuh dari Corona dapat secara otomatis menjadi pendonor, maka anda salah. Tak semua sample plasma dari pasien tersebut langsung dapat digunakan sebagai donor. Ini karena ada beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Terapi plasma darah dimulai dengan mengambil darah dari pendonor. Sebelum di distribusikan kepada pasien lain, darah tersebut harus melalui proses screening. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa plasma yang akan digunakan layak dan bebas dari berbagai macam sakit penyakit.

Apabila memang darah dari pendonor dinyatakan memenuhi syarat, barulah kemudian darah tersebut akan melalui proses ekstraksi. Dari proses ini, plasma darah akan diambil untuk kemudian digunakan mengobati pasien lain yang masih terinfeksi virus covid-19. Sama seperti donor darah, intinya sample harus benar-benar aman digunakan.

Darah pendonor untuk terapi plasma darah ini akan diperiksa dari berbagai kemungkinan infeksi. Misalnya saja test infeksi HCV, HIV, HBsAG, sifilis, dan berbagai macam infeksi lainnya. Menurut beberapa sumber, di Indonesia sendiri kini sudah ada beberapa pendonor yang dengan senang hari mendonorkan darah mereka untuk diteliti lebih lanjut.

Beragam Persyaratan untuk Menjadi Pendonor Plasma Darah

Dari penjelasan diatas memang sudah dijelaskan sedikit tentang persyaratan untuk menjadi seorang pendonor plasma darah bagi penderita Covid-19. Selain syarat harus bebas dari beragam infeksi tersebut, masih ada beberapa syarat atau kriteria lainnya yang wajib dipenuhi oleh calon pendonor. Inilah yang diungkapkan oleh banyak dokter dan tenaga medis.

Misalnya saja, pendonor yang akan memberikan plasma darahnya haruslah tidak menunjukkan gejala klinis dari penyakit Corona. Di lain sisi, dirinya juga harus sudah menunjukkan hasil negative untuk test SWAB yang dilakukan sebanyak 2x secara berturut-turut. Selain itu, plasma yang akan digunakan untuk terapi plasma darah ini juga merupakan plasma darah yang sudah memasuki minimal hari ke-14 setelah seorang pasien dinyatakan sembuh total.

Dari segi usia pun pendonor harus benar-benar mematuhi aturan yang ada. Misalnya saja pendonor haruslah berusia sekitar 17 – 60 tahun dan pernah mendonorkan darah sebelumnya. Untuk wanita, maka ada sebuah syarat yang wajib untuk diketahui yakni tidak boleh sudah memiliki anak sebanyak lebih dari 2 orang.

Apakah semua pasien Covid-19 akan mendapatkan perawatan dengan terapi ini?

Apabila memang dinyatakan aman dan ampuh untuk membantu pengobatan pasien corona, apakah terapi plasma darah akan diterapkan bagi seluruh pasien terinfeksi? Jawabannya tentu tidak. Tidak semua penderita Covid-19 akan serta merta mendapatkannya mengingat jumlah donor plasma darah yang memenuhi kriteria bisa saja sangat terbatas jumlahnya.

Terapi ini nantinya akan lebih dikhususkan kepada pasien dengan tingakatan yang sudah kritis. Biasanya pasien dalam kategori ini adalah mereka yang membutuhkan alat ventilator. Ada beberapa alasan mengapa pasien dengan kategori ringan atau sedang tidak mendapatkan terapi berupa pemberian plasma darah ini.

Alasan tersebut berkaitan dengan antibody yang dimiliki oleh pasien itu sendiri. Tubuh pasien dalam kriteria ringan atau sedang sudah secara otomatis dirancang untuk mampu bertahan dari berabagai serangan bakteri dan virus tertentu. Kemudian, tubuh akan secara alami mengeluarkan antibody.

Antibody yang dikeluarkan ini pun spesifik untuk menyerang bakteri atau virus yang sedang menginfeksi tubuh. Oleh karena itulah, terapi plasma darah dari donor pasien yang sudah sembuh dari corona memiliki antibody khusus untuk melawan virus covid-19 ini. Antibody tersebut nantinya akan menghambat perkembangan virus dengan sangat baik.

Cara Kerja Terapi Plasma Darah untuk Pasien Covid-19

Apabila pasien dirawat dengan baik dan ditingkatkan daya tahan tubuhnya, maka peluangnya untuk sembuh dan selamat dari Corona pun semakin besar. Sistem kerja plasma darah ini berupa plasma kovalesen. Jika diperhatikan secara klinis, cara kerjanya hampir sama dengan cara kerja serum.

Setelah tubuh pasien positif Covid-19 diberikan plasma kovalesen dari pendonor, maka tubuh pasien tersebut dapat mampu melawan virus Covid secara alami. Tubuh akan menetralisir virus yang ada di dalamnya sehingga jumlah virus tak akan bertambah semakin banyak. Pembuatan plasma ini tentu harus menggunakan proses tertentu sehingga plasma memang efektif dan aman untuk terapi plasma darah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hai kak, Klik salah satu CS kami dibawah! kami akan merespon anda secepat mungkin

Chat Kami Sekarang