Hal-Hal Kurang Menyenangkan Bagi Penulis dan Cara Mengatasinya

Menulis merupakan suatu pekerjaan yang bisa dibilang menyenangkan, akan tetapi bisa terasa membebani di saat-saat tertentu. Menulis juga perlu, pikiran yang rileks dan segar agar ide dapat mengalir dengan baik, serta motivasi yang baik agar tetap terdorong untuk melanjutkan tulisannya. Singkatnya penulis membutuhkan kondisi yang ideal bagi masing-masing, meski sebagian orang bisa saja menulis dengan kondisi yang tidak ideal. Selain itu, ada juga hal-hal kurang menyenangkan yang bisa saja ditemui ketika sedang menulis, yang bisa saja menjadi penghambat kreatifitas kita.

Pernahkan kalian mengalami hal kurang menyenangkan saat menulis? Mungkin suatu ketika mood turun, kurang puas dengan tulisan yang sudah dibuat, kritikan pedas dari pembaca, atau bahkan writer’s block. Tenang, itu semua merupakan hal yang wajar dialami seorang penulis baik pemula maupun mereka-mereka yang sudah lama bergelut di bidang ini. Tak perlu takut, ini bukan akhir dari segalanya, kok. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi saat hal-hal kurang menyenangkan ini terjadi. Simak beberapa hal berikut untuk cari tahu!

1) writer’s block atau buntu

Teman-teman penulis pasti pernah mengalami hal kurang menyenangkan yang satu ini. Meski kebuntuan saat menulis menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan bagi penulis, sayangnya hal ini bisa terjadi kapan saja. Tidak dipungkiri jika writer’s block bisa membuat siapapun frustrasi. Bahkan mungkin merasa seperti menjadi seorang penulis yang tidak kompeten. Tapi saat hal ini terjadi, kita tidak bisa serta merta memaksakan untuk melanjutkan tulisan kita karena suatu yang dipaksakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, istirahatkan dulu tulisanmu, serta pikiran dan fisik jika perlu. Untuk sementara waktu lakukan hal lain yang lebih produktif dibandingkan dengan duduk di depan komputer atau buku catatan tanpa menghasilkan apapun, atau kamu bisa jeda untuk merilekskan pikiran dan fisikmu. Mendiamkan tulisan saat kebuntuan melanda bisa membantu ‘memarinasi’ tulisanmu dan megendapkan hal-hal lain yang ada di pikiran yang mungkin saja menjadi pemicu writer’s block itu sendiri.

Setelah itu, alihkan pikiran sejenak dari tulisanmu jika perlu, karena saat mengalami kebuntuan bukan tidak mungkin kita menjadi malas dengan hal-hal yang berkaitan dengan menulis. Cari hiburan kecil seperti menonton film atau bermain game, atau sekedar melakukan aktifitas lainnya.

Bagaimana jika harus segera menyelesaikan proyek dan perlu terlepas dari writer’s block secepatnya? Bacalah buku yang berkaitan dengan apa yang kamu tulis. Cari tahu fakta-fakta menarik tentang topik tulisanmu, atau informasi yang sekiranya bisa membantumu mendapatkan kembali inspirasi yang kamu butuhkan. Jangan ragu untuk mengeskplor perpustakaan atau situs-situs online, karena dengan membaca akan menunjukkan hal-hal yang mungkin kamu lewatkan dan bisa kamu gunakan untuk keluar dari kebuntuanmu.

2) situasi kurang mendukung dan hilang mood

Dua hal ini sangat mungkin berkaitan satu sama lain. Saat menulis, biasanya setiap orang memiliki preferensi khusus agar bisa lebih produktif, salah satunya adalah situasi yang mendukung untuk menulis. Umumnya, Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa berpengaruh terhadap mood atau kemauan untuk menulis yang turun.

Umumnya, situasi yang tenang dan kondusif menjadi faktor pendukung yang ideal saat menulis. Kita bisa menciptakan situasi yang seperti ini dengan mencari tempat yang tenang dan terhindar dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk percakapan atau suara-suara lainnya yang bisa memecah konsentrasi saat menulis. Perpustakaan bisa menjadi pilihan paling tepat, atau cukup di rumah jika tidak terlalu berminat untuk bepergian. Akan tetapi jika dianggap terlalu membosankan, bisa mencari tempat umum yang dirasa kondusif.

Bagaimana jika kita sedang di tempat umum yang cukup ramai yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan ketenangan? Kadang kondisi ini tidak bisa dihindari apalagi jika kita memiliki kesibukan di luar menulis yang membutuhkan mobilitas di tempat-tempat ramai. Alhasil, mood untuk menulis bisa terganggu dan berujung hilangnya keinginan untuk menulis sama sekali. Saat ini terjadi, kamu bisa ‘mengisolasi’ diri sendiri dengan mendengarkan musik menggunakan alat bantu seperti earbuds. Dengan begitu, kamu bisa memblokir suara-suara dari luar yang bisa mengalihkan konsentrasi menulismu.

Satu hal lain yang bisa lebih jauh membantu membangun situasi yang kondusif saat menulis yaitu dengan menjauhkan hal-hal yang sekiranya mudah mengalihkan perhatianmu, seperti telepon genggam misalnya. Smartphone yang hampir setiap orang menggunakan ini bisa menjadi hal paling utama penyebab pikiranmu terdistraksi. Bahkan bisa juga menghambat produktivitas, karena godaan  untuk mengecek sosial media atau grup percakapan dengan teman terasa jauh lebih menarik dibandingkan dengan tulisanmu. Ada kalanya kamu perlu menempatkan gawai sedikit lebih jauh dari jangkauan bila memungkinkan atau jika pekerjaanmu tidak terlalu bergantung pada handphone. Gunakan hanya di saat-saat tertentu dan penting saja, atau ketika jeda, dan jangan lupakan fokus utamamu untuk menulis.

3) tulisan dirasa kurang bagus

Pernahkah kalian merasa minder dengan hasil tulisanmu sendiri? Merasa jika tulisanmu kurang menarik untuk dibaca, membosankan, atau kalah bagus dengan tulisan orang lain dengan topik yang sama. Hal ini tidak hanya dialami oleh penulis pemula saja, tetapi juga mereka yang sudah lama menjadi penulis. Merasa tulisanmu kurang bagus bukan sesuatu hal yang memalukan untuk diakui, kok. Artinya, kamu masih ada keinginan untuk memperbaiki bagian-bagian yang dirasa kurang dan masih ada keinginan untuk belajar lebih lagi.

Langkah awal yang perlu diambil adalah, lagi-lagi, dimakan tulisanmu sejenak. Setelah pikiranmu tidak lagi penuh, bacalah kembali untuk mendapatkan perspektif yang baru. Dengan begitu kamu bisa tahu mana saja yang bisa dipoles lebih bagus, mana bagian yang perlu ditulis ulang, atau bahkan bagian yang perlu dibuang. Jangan ragu untuk merombak dan membongkar pasang tulisan yang sudah ada untuk mendapatkan hasil yang menurutmu terbaik.

Kalau kamu merasa masih kurang, kamu bisa membaca tips-tips yang bisa membantumu mengembangkan tulisan. Bacalah tulisan-tulisan orang lain untuk mendapatkan pandangan lebih luas tentang gaya menulis, karena style biasanya menjadi suatu ciri khas bagi masing-masing penulis. Dan jangan takut untuk mencoba berbagai macam gaya penulisan sampai kamu menemukan style yang paling nyaman, atau gaya yang ‘kamu banget’.

4) kritik pedas dari pembaca

Bagi penulis blog, penulis cerita di media sosial, atau jenis tulisan lainnya yang memungkinkan para pembaca untuk memberikan feedback langsung, mendapatkan kritikan dari pembaca adalah hal yang lumrah. Bahkan, ada juga kritik yang terasa berlebihan, dan terkadang kita tidak bisa menerimanya begitu saja. Wajar saja, karena setiap kita memiliki keinginan untuk diakui. Setiap penulis pasti memiliki keinginan agar tulisan kita dianggap oleh para pembaca budiman, dan merasa tersinggung atau sakit hati saat membaca kritik yang pedas merupakan hal yang manusiawi.

Jika kamu menerima kritikan seperti ini, jangan tergesa-gesa untuk langsung menanggapi. Jangan serta merta membalas setiap komentar kurang menyenangkan secara defensif dan berujung tidak sopan. Sebaiknya, baca saja terlebih dahulu apa saja bagian yang dikritik, perhatikan apakah hal yang disampaikan pembaca tersebut sesuai atau tidak, catat mana saja yang bisa dijadikan pengingat atau evaluasi untuk tulisanmu. Tanggapilah kritikan tersebut di lain waktu saat pikiran lebih jernih dan tidak terlalu terbawa emosi. Bukan berarti kamu tidak boleh membela diri atau membela anggapanmu sendiri, tetapi akan lebih bijak jika dilakukan secara baik-baik dan tidak emosi.

5) kurang ‘engagement‘ atau peminat

Hal kurang menyenangkan lainnya saat menulis adalah kurangnya engagement atau peminat terhadap tulisanmu. Hal ini bisa menurunkan semangat menulis dan merasa kurang mampu dalam menulis, padahal ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurangnya peminat selain kualitas itu sendiri. Kamu perlu memperhatikan target audience tulisanmu, apakah sudah sesuai dengan topik yang kamu bawa. Bisa jadi kurangnya peminat terhadap tulisanmu disebabkan oleh target pembaca yang kurang tepat.

Selain itu, sudut pandang penulisan, style, dan bahasa penyampaian juga bisa jadi faktor lain yang menyebabkan minimnya peminat. Mungkin kamu perlu mengubah sudut pandang yang kamu pakai, atau mencoba gaya penulisan lain dalam menyampaikan tulisanmu. Jangan lupa juga untuk mengevaluasi setiap hasil tulisanmu untuk mengetahui bagian-bagian yang masih lemah dan perlu ditingkatkan. Jadikan sebagai catatan agar lebih cermat lagi kedepannya, dan perlu diingat juga, bahwa peminat yang sedikit bukan serta merta berarti tulisanmu buruk, ya.

6) ditolak editor atau penerbit

Bagi penulis buku, baik buku umum ataupun novel, bahkan kumpulan cerita lainnya yang menginginkan tulisan mereka untuk diterbitkan, mendapat penolakan dari penerbit pastinya menjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Akan tetapi kita harus tahu bahwa menerbitkan tulisan kita memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses panjang dan editing yang tentunya tidak sedikit juga sebelum naskah kita dianggap layak terbit. Kalau hal ini terjadi padamu, jangan berkecil hati, jangan patah semangat dan berhenti menulis karena mungkin keberuntunganmu bukanlah saat itu.

Jika tulisanmu ditolak seketika, cobalah untuk membacanya ulang setelah beberapa saat untuk evaluasi diri sendiri. Kamu juga bisa mencari bantuan pada orang-orang terdekatmu atau siapapun yang kamu rasa bisa memberikan penilaian dan masukan untuk memoles naskahmu. Perhatikan dengan pikiran terbuka mana saja yang mereka komentari karena mengetahui sudut pandang pembaca penting untuk menilai apakah tulisanmu bisa mudah diterima oleh pembaca.

Selain itu kamu bisa meminta masukan pada editor yang sudah menolak naskahmu jika memungkinkan. Seorang editor tentunya memiliki pertimbangan yang lebih matang dan alasan yang membuatnya menolak tulisanmu. Dengan mengetahui alasan-alasan tersebut, kamu bisa lebih mudah mengetahui mana saja yang harus kamu perbaiki agar naskahmu lebih menarik untuk editor ataupun penerbit. Cari tahu dan bacalah pengalaman penulis-penulis yang pernah menerbitkan buku, bagaimana sepak terjang mereka hingga naskah bisa terbit. Kamu bisa belajar dari mereka dan jangan takut untuk mengirimkan ulang naskahmu ke penerbit yang sama atau mencoba peruntungan dengan penerbit lain.

Menulis bukanlah suatu proses singkat, memerlukan waktu yang tidak sedikit dan kesabaran serta kemauan yang tiada putus. Menjaga mood tetap baik dan memastikan agar inspirasi tetap mengalir juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Ada kalanya penulis juga membutuhkan mental baja untuk menghadapi kritik pembaca, atau bagi mereka yang ingin mempublikasikan tulisannya melalui suatu penerbit, terutama penulis pemula. Belum lagi hal kurang menyenangkan lainnya yang bisa terjadi setiap saat dan tanpa kita duga.

Namun kejadian semacam ini bukanlah alasan untuk berhenti dan menyerah begitu saja. Jadikan sebagai cambuk semangat untuk tetap berkarya, untuk tetap berusaha dan belajar, memperbaiki bagian yang masih kurang. Menulis memang bukan kemampuan yang bisa dikuasai dalam semalam saja, tapi seiring berjalannya waktu kamu akan terbiasa dan bisa belajar untuk mengantisipasi jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Selamat berproses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About Us

JagoArtikel.com jasa penulis artikel SEO, jasa penulis review, rewrite artikel, Press release, Sales latter, jasa penulisan konten web, jasa posting blog, jasa penerjemah.

© 2021 JagoArtikel.com. All rights reserved