Sudahkah Kamu Menerapkan 5 Hal Ini dalam Ceritamu?

Sudahkah Kamu Menerapkan 5 Hal Ini dalam Ceritamu?

Menulis cerita fiksi bisa dibilang gampang-gampang susah. Proyek semacam ini tidak hanya mengandalkan imajinasi semata, namun juga kelihaian penulis sebagai narator untuk mengarahkan jalannya cerita supaya menarik dan bisa dinikmati pembaca. Pun tidak melulu soal kuantitas atau seberapa panjang cerita tersebut, karena kualitas biasanya menjadi sesuatu yang lebih diutamakan atau ‘dilirik’ dari sebuah cerita. Hal ini juga yang membuat pembaca bisa menilai bagus tidaknya suatu karya fiksi, atau sekedar memberikan komentar bahkan kritik untuk cerita maupun penulis.

Ada berbagai macam hal yang menjadi penentu dan mempengaruhi kualitas suatu cerita, seperti tema, alur, gaya bahasa yang dipakai untuk cerita tersebut, sudut pandang, atau style khas dari seorang penulis itu sendiri. Selain itu detail-detail tertentu juga turut membangun narasimu menjadi lebih memikat. Lalu apa saja sih, hal-hal yang sebaiknya diterapkan saat menulis cerita fiksi?

1) unsur intrinsik

Satu hal ini sudah pasti dipelajari di pelajaran Bahasa Indonesia selama sekolah. Jika kamu lupa, kamu pun bisa mempelajari ulang melalui buku-buku atau sumber dari internet yang ada. Tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, dan amanat menjadi rentetan hal yang harus diperhatikan saat ingin memulai sebuah cerita. Menerapkan hal-hal tersebut akan membantumu membangun cerita yang solid, runtut, dan utuh dari awal hingga akhir.

Buatlah kerangka cerita terlebih dahulu untuk memudahkan. Disana kamu bisa menuliskan enam hal tersebut secara garis besar maupun mendetail sebagai landasan menulis cerita. Sesuaikan dengan panjang cerita yang ingin kamu tulis, buatlah kerangka dengan jelas agar kamu tidak bingung nantinya. Jika ceritamu terdiri dari banyak bab, kamu bisa menambahkan outline setiap babnya disamping kerangka cerita secara keseluruhan. Membuat kerangka akan memberikanmu panduan dan batasan agar cerita yang kamu tulis tidak melebar dan bertele-tele.

2) perhatikan tanda baca

Penggunaan tanda baca yang tepat dalam sebuah cerita tidak kalah krusial dengan unsur intrinsik yang diperlukan sebelum memulai kisah. Penggunaan tanda baca akan mempengaruhi pemenggalan kalimat, terutama kalimat yang panjang, agar tidak terasa berat dan melelahkan. Selain itu, penempatan tanda baca juga bisa berpengaruh pada makna yang diciptakan kalimat itu sendiri. Seperti dua contoh kalimat ini, misalnya.

“Aku ingin makan adik.”

“Aku ingin makan, adik.”

Keduanya memiliki susunan kata yang sama, bukan? Akan tetapi keberadaan tanda koma di kalimat kedua memberikan makna yang jelas berbeda dengan kalimat pertama. Jangan sampai pembaca bingung dengan makna ganda yang timbul dari kalimat tersebut, kecuali jika memang disengaja untuk memberikan sentuhan khusus pada cerita dan sesuai dengan jalannya alur.

3) variasi kalimat

Panjang pendek kalimat yang digunakan secara berselang-seling saat menulis cerita juga sebaiknya menjadi perhatian penulis. Memanfaatkan cara ini dengan tepat bisa membuat perkembangan cerita lebih menarik disamping alur ataupun arah cerita itu sendiri. Coba perhatikan tulisan berikut ini.

“Ini kalimat dengan lima kata. Berikutnya adalah lima kata lainnya. Kalimat lima kata tidaklah salah. Tapi lama kelamaan terlihat monoton. Lihat saja yang terjadi sekarang. Tulisan ini mulai terasa membosankan. Terasa berulang-ulang, bukan begitu? Seperti pita kaset yang rusak. Kita butuh variasi yang baru.”

Lalu jika sudah, coba bandingkan dengan contoh berikutnya:

“Lihat. Tulisan ini menggunakan variasi, dan menciptakan irama. Seperti musik. Tulisan ini terasa lebih mengalir. Memiliki alur yang menarik, memiliki intonasi, dan keselarasan. Ada kalimat pendek. Ada juga kalimat sedang yang sedikit lebih panjang. Lalu saat pembaca mulai terlarut dalam cerita, gunakan kalimat yang lebih panjang lagi, yang membuat pembaca mengantisipasi kejadian berikutnya dan membangun cerita lebih jauh, yang menyita perhatian, yang membuat pembaca semakin terbawa—seolah berkata “perhatikan bagian ini, ini penting”.”

Bagaimana? Terlihat berbeda, bukan? Menulislah dengan bebas, tapi gunakan variasi untuk menciptakan nuansa dalam cerita. Gunakan perpaduan kalimat pendek, sedang, dan panjang untuk menyajikan narasi yang lebih menarik. Cobalah untuk bereksperimen. Jangan khawatir soal keanehan atau kesalahan, kita bisa mengedit nantinya.

4) character development

Selain variasi kalimat, penokohan dan perkembangan karakter tiap tokoh juga bisa menjadi bumbu tertentu dalam sebuah cerita. Buatlah tokoh dalam ceritamu semenarik mungkin dengan keunikan-keunikan yang berbeda tiap tokohnya. Seperti sifat manusia pada umumnya, seorang tokoh dalam cerita juga perlu memiliki sifat yang kompleks, kebiasaan tertentu, background dan keunikan-keunikan lainnya yang bisa kamu terapkan.

Jangan hanya terbatas pada stereotipe tertentu, tunjukkan apa yang membuat tokohmu protagonis cerita. Kemudian untuk tokoh antagonis, apa yang membuatnya berbeda dengan antagonis biasa dan berpotensi untuk membuat pembaca setuju bahwa tokoh tersebut adalah antagonis. Berikan ketegasan pada perilaku setiap tokoh dan tunjukkan alasan kuat tentang apa yang membuat tokohmu sedemikian rupa.

Untuk membantu menciptakan tokoh secara matang, kamu bisa membuat draft khusus untuk tiap-tiap tokoh. Tuliskan detail-detail yang mendukung. Misalnya penampilan, cara berpakaian, cara berbicara, rentang usia, dan hal-hal lain yang dirasa penting untuk membuat tokohmu terasa lebih nyata dan tidak mengambang. Bahkan jika perlu, tuliskan juga detail sifat, baik-buruk tokoh, dan hal kecil lain untuk menambah keunikan.

Selain itu, perkembangan karakter dari tokoh dari awal hingga akhir cerita, terutama tokoh utama dan pendukung yang erat kaitannya, juga membantumu untuk membangun alur cerita. Perhatikan tokoh-tokoh fiksi dari film atau buku yang sudah ada dan lihat perkembangannya. Tentukan bagaimana kamu ingin membentuk karakter tokohmu selama cerita berjalan.

5) unsur kejutan

Berikan unsur kejutan untuk menambah daya tarik cerita dan untuk membangun alur secara lebih kuat. Kamu bisa memberikan plot twist berupa kejadian tak terduga, mengungkapkan rahasia yang tak disangka, atau menyajikan kenyataan bahwa tokohmu tidak seperti yang digambarkan sebelumnya.

Kamu bisa meletakkannya setelah konflik terlihat mereda, saat pembaca mulai merasa bahwa semuanya baik-baik saja, atau bahkan di bagian tidak terduga lainnya seperti jelang akhir cerita ketika semuanya justru hampir berakhir. Tapi kamu juga harus memperhatikan valid atau tidaknya plot twist tersebut. Jangan sampai terlihat terlalu mengada-ada atau bahkan tak beralasan. Berikan tanda-tanda kecil yang mungkin saja terlewatkan oleh pembaca sebelumnya, namun bisa membuat mereka menghubungkan berbagai clue tersebut sebagai pendukung plot twist yang kamu ciptakan.

Menulis bukanlah sekedar merangkai kata dan menyusun paragraf. Sama halnya dengan menulis fiksi, kamu perlu memahami berbagai unsur yang membuat sebuah cerita diminati oleh pembaca. Beberapa hal yang sudah disebutkan tadi bisa membuat ceritamu lebih berwarna dan menarik perhatian penikmat fiksi agar melirik karyamu. Satu hal lagi yang perlu diingat, jangan pernah takut untuk mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2022 JagoArtikel.com | All rights reserved.